Copyright © Geologi, Geodesi, Meteo, Oceano
Design by Dzignine
Monday, November 8, 2010

Potensi Bencana Sekitar Gunung Merapi Khususnya SMA Taruna Nusantara


POTENSI ARAH LETUSAN GUNUNG MERAPI
Gunung Merapi sepertinya tak bosan-bosannya untuk mengeluarkan dan menunjukan keganasannya. Berkali-kali aliran piroclastic flow atau sering kita kenal dengan "Wedhus Gembel" terjadi. Sudah banyak korban berjatuhan, kesakitan, luka bakar hingga korban jiwa tak dapat dihindarkan. Ya apa daya... jika Tuhan YME sudah berkehendak, apa lagi yang bisa kita lakukan. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha untuk semampunya menyelamatkan diri. Menyelamatkan diri juga tidak baik jika tidak tahu bagaimana sebenarnya potensi bencana Gunung Merapi itu sendiri. Di sinilah sekelumit informasi tentang potensi bencana sekitar Gunung Merapi.
Tahukah anda sejarah Gunung Merapi? Gunung merapi yang sekarang kita lihat, tidaklah terbentuk dalam satu kali proses pembentukan gunung. Gunung Merapi terbentuk dalam beberapa tahapan yang amat panjang. Sejarah Merapi secara singkat adalah sebagai berikut :
  • Masa Pra Merapi (+ 400.000 th yll) gunung yang terbentuk pada masa ini sekarang kita kenal sebagai gunung Bibi, yang berada sekitar 2,5 km sebelah Timur dari letak Gunung Merapi sekarang. Magma yang dihasilkan masih berupa magma basaltik yang bersifat basa.
  • Masa Merapi Tua (60.000 – 8000 th yll) Gunung yang terbentuk adalah gunung Turgo dan Gunung Plawangan, lavanya masih bersifat basaltik.
  •  Masa Merapi Pertengahan (8000-2000 th yll) Lava yang dikeluarkan sudah andesitik yang bersifat intermediate. Hasilnya adalah Bukit Batulawang dan Gajahmungkur sekarang berada di Utara Merapi dan terdapat letusan eksplosif yang membentuk kawah Pasarbubar. 
  • Masa Merapi Muda (2000 th yll s/d sekarang) Dalam kawah Pasarbubar terbentuk kerucut puncak Merapi yang saat ini kita lihat dan kita kenal dengan nama Gunung Anyar(menurut:Berthomier 1990)
Sunday, November 7, 2010

Perbedaan Petrologi dan Petrografi

Apa sih beda dari petrologi dan petrografi ?
Uhm.. Apa ya ?
Kedua-duanya sama-sama mempelajari tentang batuan. Sama-sama penting untuk proses pendiskripsian suatu batuan. Dan sama-sama perlu untuk dikuasai oleh seorang geologis. Perbedaan dari keduanya adalah :

Petrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang komposisi batuan secara makro, sehingga ilmu ini mendiskripsi suatu batuan sesuai dengan apa yang kita lihat dan amati dari suatu batuan dengan mata telanjang (naked eyes) atau dengan bantuan lup(kaca pembesar) geologi. Kajian Petrologi sangat berhubungan dengan sifat fisik mineral dalam mineralogi, dan membutuhkan pengertian yang mendalam untuk mengidentifikasi klasifikasi suatu batuan.
 Petrografi adalah Ilmu yang mempelajari tentang komposisi batuan secara mikro, sehingga ilmu ini terasa lebih detail daripada petrologi. Petrografi akan menjawab berbagai pertanyaan yang muncul saat kita belajar mengenai batuan dengan petrologi. Petrografi mengidentifikasi suatu batuan dengan bantuan mikroskop polarisator. Kita dapat mengamati komposisi batuan dengan lebih jelas dan menghilangkan segala keragu-raguan, karena keterbatasan penglihatan saat kita mengidentifikasi batuan dengan petrologi. Belajar mengenai petrografi memang butuh perhatian ekstra karena jika kita melihat suatu mineral di bawah mikroskop polarisator, saat kita memutar sedikit saja meja objek maka ciri-ciri suatu mineral akan berubah. Selain itu, tubuh mineral dengan jenis yang sama dengan butir yang berbeda  dalam pengamatan, dapat membuat ciri-ciri mineral tersebut akan berbeda.

Nah, itulah perbedaan dari keduanya. Petrologi sangat cocok untuk identifikasi batuan secara spontan di lapangan. Jika terdapat keragu-raguan atau kita ingin mendapat data yang lebih akurat maka sayat batuan itu, bawa ke laboratorium, amati dengan mikroskop polarisator dan gunakan ilmu petrografi. Maka kita akan mendapatkan data yang lebih akurat dan detail, dari suatu tubuh batuan. Selamat Belajar.

Sumber
http://www.wikipedia.org
Pelatnas IESO I tahun 2010

Author
Andrean Eka Lucianto


Saturday, November 6, 2010

Proses Pembentukan Hujan

Mengacu pada pertanyaan mingguan yaitu "Bagaimana proses hujan saat hari cerah ?"
Nah, inilah dia jawabannya...
Yang namanya nak Olimpiade Kebumian, pastinya udah tahu ya siklus Hidrologi seperti di atas,  ada baiknya saya mulai penjelasan saya ini dengan mengulas sedikit tentang gambar di atas. Gambar di atas sebenernya adalah urutan daur Hidrologi. Daur/Siklus Hidrologi adalah urut-urutan perjalanan air di muka Bumi. Adanya siklus Hidrologi, membuat banyaknya cadangan air di muka bumi ini "Tetap" artinya tidak bertambah ataupun tidak berkurang. 

Jadi mulanya air yang ada di permukaan bumi itu mengalami penguapan. Penguapan dibagi menjadi dua macam yaitu Evaporasi (Penguapan dari benda mati,contohnya: Laut,sungai,air di atas batu dsb). Dan Transpirasi (Penguapan dari benda hidup,contohnya: hasil respirasi tumbuhan,air di atas daun,batang dsb). Ada juga nih campuran kedua2nya yaitu  Evapotranspirasi. Nah, setelah penguapan udah pasti si uap bakal naik ke atas kan... Di atas sana akan terjadi Adveksi (Proses dimana uap air yang sudah ada di atas tadi mengumpul dan bergerak secara horizontal karena adanya pengaruh angin). Selanjutnya saat uap air telah melewati suhu titik embun maka terjadi proses Kondensasi (Proses perubahan fasa/fisik dari uap air menjadi air dalam bentuk titik-titik air yang cair). Titik air inilah yang akan membuat Presipitasi (Proses turunnya curahan hasil kondensasi, dapat berupa hujan air atau es). Saat hujan mengguyur permukaan tanah maka akan ada Run off / Surface flow (Proses mengalirnya air di atas permukaan tanah, contoh : Sungai). Selain ada air yang mengalir di permukaan, ada juga  air yang meresap dari permukaan ke dalam tanah secara vertikal disebut Infiltrasi. Lalu, akan ada Perkolasi (Proses mengalirnya air tanah dalam secara horizontal, proses ini terjadi jika air yang mengalami infiltrasi telah meresap hingga lapisan impermeable, sehingga tidak bisa lagi meresap dan akhirnya akan mengalir secara horizontal di dalam tanah, membentuk aliran air tanah dalam).

Lalu banyak orang bertanya demikian, Mengapa ada daerah yang semula nggak pernah banjir tapi sekarang banjir ? Ada juga daerah yang dulunya selalu subur eh, sekarang malah jadi kering kerontang ? Bukankah itu berarti airnya berubah jumlahnya ?
Itu adalah anggapan yang salah, Mengapa ? Karena jika kita lihat dari siklus hidrologi seperti di atas maka jumlah air tidak akan berkurang. Jadi kesimpulannya, bukan airnya yang berkurang jumlahnya tapi karena adanya perubahan dalam siklus hidrologi dalam segi tempat. Ehm, jadi gini contohnya yang biasanya di Bogor banyak hujan eh, suatu saat karena anomali siklus akhirnya tempat terjadinya kondensasi berubah tempat, maka Bogor akan kekeringan kan. Nah, jadi seperti itu. Mengerti ?

Friday, November 5, 2010

Merapi Meletus Lagi

Seminggu sudah kita dihebohkan dengan dampak letusan Gunung berapi paling aktif di dunia yaitu Gunung Merapi. Merapi begitu ganas meletus tahun ini sampai-sampai guguran awan panasnya mencapai >15km, yang sebelumnya belum pernah terjadi. Abu vulkanik, kerikil dan material vulkanik lainnya udah dikeluarin tanpa henti.
Awas!!! nih dia skenario terburuk dari letusan Merapi yang udah sekitar satu minggu lebih nggak henti-hentinya mengeluarkan material vulkanik. Ada rumor yang menyebutkan tipe letusan merapi akan begitu dahsyat tahun ini. Benarkah ? Mari kita telaah bersama.

Mengapa merapi bisa berubah dari tipe guguran kubah lava jadi "Ultra-plinian"?
Terdapat berbagai hipotesis yang mendukung pemikiran tersebut :

Saturday, October 23, 2010

Bowen = Pembentukan Mineral

Anak olimpiade kebumian pasti tahu kan apa yang namanya "Bowen Reaction Series" atau sering kita sebut deret reaksi bowen. Kenapa ? karena reaksi Bowen-lah dasar dari pembelajaran tentang proses pembentukan mineral, khususnya mineral pada betuan beku. Sebelumnya, marilah kita mengenal siapa penemu dari deret reaksi itu, terlebih dahulu, Bowen adalah ilmuan yang melakukan riset mengenai proses terbentuknya mineral di dalam bumi. Riset yang dia lakukan adalah dengan mengambil sampel magma cair, lalu dia memasukkannya ke dalam sebuah alat (sejenis oven) yang gak jelas. Intinya alat ini akan memberikan tekanan dan suhu yang dianggap hampir sama dengan keadaan di dalam Bumi. Nah, seiring waktu berlalu alat itu, akan memperkecil besa tekanan dan suhu yang diberikannya, analoginya seperti magma yang sedang berjalan ke luar permukaan bumi. Ternyata magma itu, mulai membeku dan terus berubah membentuk suatu urutan mineral, mulai dari olivin, anortite menuju ke Quartz (kuarsa). Kalo mau lebih jelasnya ini dia urutan sederhananya.
     Tambahan untuk deret sebelah kanan urutan mineralnya adalah sebagai berikut : Anortite > Bitownite > Labradorite > Andesin > Oligoklas > Albite. Kenapa perubahan pada deret yang kanan sering nggak ditulis pada skema2 reaksi bowen pada umumnya? Karena reaksi di sebelah kanan ini bersifat "Continous Series" yang artinya perubahan mineralnya itu menerus. Alias nggak terputus-putus. Oleh karenanya, mineral-mineral di sebelah kanan jarang ditemukan di alam. Beda, ama reaksi yang di sebelah kiri, yang diberinama "Discontinous Series" Karena reaksinya nggak menerus dan terputus-putus, alhasil mineral-mineral di reaksi sebelah kiri lebih umum dijumpai pada batuan beku.
    Sebenarnya apa aja sih yang bisa kita dapetin dari reaksi bowen ini.... Banyaaaaak bgt...
  1. Urutan mineral dari yang terbentuk pada temperatur tinggi sampai rendah. Urutannya adalah dari atas ke bawah.
  2. Urutan mineral dari yang paling resisten sampai ke mineral yang mudah lapuk. Urutannya adalah dari bawah ke atas.
  3. Urutan mineral dari yang kandungan silikatnya paling banyak. Urutannya dari bawah ke atas. Kenapa hal ini dapat terjadi ? Nah, mari kita lirik dari genesa pembentukan magma. Pada awal pembentukan magma, magma bersifat basa bukan ? Karena mineral yang bersifat basa akan membeku pada suhu yang tinggi maka mineral-mineral basa akan terlebih dahulu mengalami pembekuan. Makin lama, makin asam kan. Maka dari itu, mineral yang terbentuk memiliki kandungan SiO2 yang melimpah.
  4. Sesuai tabel reaksi bowen di atas kita bisa tahu kandungan makro dan mikro masing-masing batuan beku, diantaranya :
    • Granite dan Rhyolite
      • Makro : Quartz, Plagioklas, dan Orthoklas
      • Mikro  : Muskovite, Biotite
    • Diorite dan Andesite
      • Makro : Amphibole, Plagioklas dan Orthoklas
      • Mikro  : Biotite, Piroxene
    • Gabbro dan Basalt
      • Makro : Piroxene, Plagioklas dan Orthoklas
      • Mikro  : Olivin, Amphibole
    • Peridotite dan Kimberlite
      • Makro : Olivin dan Piroxene
      • Mikro  : Ca-Plagioklas (Anortite,Bitownite)
  5. Urutan mineral dari yang terbentuk pada kedalaman yang dangkal hingga dalam. Urutannya adalah dari bawah ke atas. Sesuai genesa terbentuknya magma.
Terus sebenernya ini cuma mau bagi-bagi metode shortcut gimana cara buat deskripsi batuan beku dengan mudah :
  • Apalin dulu mineral-mineral yang ada di deret bowen ampe di luar kepala.
  • Terus apalin sifat fisik masing-masing mineral sesuai tempatnya di deret bowen. Bayangkan deret bowen dan gabungkan dengan hapalan sifat fisik mineral.
  • Nah, hal2 yang penting untuk mengamati mineral dalam deskripsi batuan beku adalah warna, kilap, bentuk, (ketiga ini wajib), belahan, pecahan, dan sifat dalam(hanya sunah).
Selamat mencoba

Sumber
Pelatnas I IESO 2010
Author
Andrean Eka Lucianto



Proses Terbentuknya Atmosfer Bumi

Ehm,.. gimana ya proses terbentuknya komposisi atmosfer bumi kita seperti sekarang ini ? Gak mungkin kan langsung jadi secara tiba-tiba gitu. Itulah soal nomor satu pertanyaan tes Pelatnas tahap 1 IESO 2011 mendatang. Wah, jujur nih pertanyaan bisa dijawab dengan singkat dan panjang sepanjang mungkin. wkwkwkw dan saya memilih menjawab dengan panjang total 1 halaman folio. hehe. Eh, ternyata bapak dosen suka jawaban yang singkat padat jelas. Emang nih, nasib2... Nah, aku pengen posting jawabanku nih. 


Jadi gini proses terbentuknya atmosfer kita :
Proses terbentuknya atmosfer kita itu, bareng ama proses terbentuknya bumi kita pastinyakan. Nah, dulu sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu (lama bgt ya) itu tu atmosfer kita mulai terbentuk. Tapi karena bumi kita juga masih muda banget dan belum terbentuk secara sempurna, makanya atmosfer kita juga masih belum kayak sekarang, masih banyak debu, material, senyawa berbahaya hasil aktivitas bumi kita yang masih 'bayi'.hehe. Pada waktu itu ada yang nama proses "Out Gassing" proses ini membuat atmosfer kita banyak punya cadangan gas-gas beracun yaitu gas CH4 dan NH4. Oleh karenanya, pada masa ini belum ditemukan adanya tanda-tanda kehidupan, ya pastilah keracunan kali ya. hehe



Selain mengeluarkan dua jenis gas di atas proses ini juga mengeluarkan H2O dalam fasa gas dari dalam bumi. Nah, karena adanya H2O pastinya pas dia udah nyampek ke atas atmosfer (bagian dengan suhu rendah) pastinya dia bakal berubah fasa kan dari gas jadi cair (mengembun). Betul apa nggak nih ? hehe :) Trus dia turun ke bumi, Eits... Tapi karena permukaan bumi pada waktu itu masih puanas pol-polan. Makanya pas belum nyampek di permukaan aja H2O cair tadi udah menguap lagi dan naik lagi ke atas. Proses ini membuat permukaan bumi yang panas jadi lama-lama mendingin. Proses itu tu teruuuuus berlangsung sekitar 1 milyar tahun yang lalu.

Proses itu terus berlangsung, pada waktu itu karena adanya proses perubahan fasa H2O tadi. Makanya pada waktu itu, permukaaan bumi makin mendingin, bumi jadi agak stabil dan atmosfer jadi agak bersih. Karena jadi agak bersih, makanya cahaya matahari bisa masuk ke permukaan bumi dan lanjut pada terjadinya proses yang disebut "Disosiasi fotokemis" apa itu gak jelas ya ? Jadi itu sejenis reaksi kimia gitu deh, ini dia reaksi kimianya :

2H2O + sinar UV > 2H2 + O2
CH4 + 2O2 > CO2 + 2H2O
NH4 + 3O2 > 2N2 + 6H2O

Nah, kalo dilihat dari reaksi di atas makanya kandungan CH4 dan NH4 akan makin mengecil seperti sekarang. Kandungan O2, CO2, dan N2 jadi besar dan merupakan kandungan gas terbanyak saat ini. Gabungan ketiga gas ini akan membentuk lebih dari 95% kandungan atmosfer bumi, dengan rincian N2 sebanyak 78%, O2 sebanyak 21% dan CO2 sebanyak 0,5%. Proses yang satu ini lebih lama dikit sih dari yang tadi yaaa sekitar 2 milyar tahun. Kalo diitung-itung 4,6 milyar dikurangi 1 milyar dikurangi 2 milyar, maka dari itu, lamanya pembentukan atmosfer kita sendiri  sekitar selama 3,6 milyar tahun. Nah, keren bangetkan. Itulah cerita singkat tentang proses terbentuknya atmosfer sehingga komposisinya jadi kayak sekarang.

Oleh karenanya teman-teman, jangan sampai proses pembentukan atmosfer selama 3,6 milyar tahun itu kita rusak dengan tangan kita cuma dalam waktu 1 abad. Ayo selamatkan atmosfer kita dari kerusakan.
Terimakasih dan salam hangat

Author
Andrean Eka Lucianto



Sumber
Penjelasan dosen saat Pelatnas IESO I




Friday, October 22, 2010

Perolehan Medali OSN 2010 !

Selamat untuk teman-teman yang mendapatkan medali pada OSN 2010 di Medan kemarin. Ayo semangat menuju Pelatnas. Harumkan Nama Indonesia di kancah Internasional. Buka lewat link ini ya. silahkan klik :

Perolehan Medali OSN 2010 !

Materi apa yang paling kalian tunggu-tunggu dari Blog ini ?